Kalau kamu pernah berkunjung ke Yogyakarta, pasti tak asing dengan pemandangan warung angkringan di pinggir jalan yang ramai di malam hari. Di antara beragam menu yang disajikan—mulai dari nasi kucing, sate usus, hingga gorengan hangat—ada satu minuman yang unik dan selalu berhasil menarik perhatian: Kopi Joss. Bukan sekadar kopi hitam biasa, minuman ini punya keunikan yang bikin siapa pun penasaran. Bagaimana tidak? Di dalam cangkir kopinya, ada bara arang panas yang langsung dicelupkan ke dalam minuman!
Ya, kamu tidak salah baca. Bara arang yang masih membara merah itu dimasukkan begitu saja ke dalam kopi hitam panas, menghasilkan suara cesss! yang khas—dan dari situlah asal nama “Kopi Joss.”
Kopi Joss pertama kali dikenal di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Konon, penciptanya adalah seorang penjual angkringan bernama Lik Man, yang sudah berjualan sejak tahun 1960-an. Di masa itu, angkringan bukan sekadar tempat makan murah, tapi juga ruang sosial tempat orang ngobrol santai, berbagi cerita, bahkan berdiskusi hingga larut malam.
Ceritanya, Lik Man ingin membuat sajian kopi yang berbeda—lebih hangat dan punya sensasi khas. Ia lalu mencoba ide gila: memasukkan bara arang panas ke dalam kopi. Ternyata, hasilnya tak cuma unik, tapi juga memberi aroma dan rasa yang khas, serta dipercaya punya manfaat untuk tubuh.
Dari situlah, kopi ini kemudian dikenal dengan nama “Kopi Joss”, meniru suara “cesss” saat arang bersentuhan dengan cairan kopi. Hingga kini, warung Kopi Joss Lik Man masih berdiri dan menjadi legenda yang wajib disinggahi wisatawan saat ke Jogja.
Menikmati Kopi Joss bukan sekadar soal rasa, tapi juga pengalaman.
Begini prosesnya:
Penjual menyiapkan segelas kopi tubruk hitam panas seperti biasa.
Setelah itu, dia mengambil sepotong kecil arang kayu keras yang baru diangkat dari bara api.
Tanpa ragu, bara itu langsung dicelupkan ke dalam gelas kopi—menghasilkan bunyi cesss! disertai kepulan asap dan aroma khas.
Setelah beberapa saat, arang biasanya dibiarkan di dalam gelas hingga suhu kopi turun sedikit dan siap diminum.
Bagi yang belum pernah melihatnya, proses ini bisa terlihat ekstrem, bahkan sedikit “berbahaya”. Tapi bagi orang Jogja, itu adalah atraksi yang justru menambah kenikmatan minum kopi.
Sekilas, Kopi Joss terlihat seperti kopi tubruk biasa. Tapi setelah dicicip, kamu akan merasakan perbedaan yang cukup mencolok. Rasa pahit kopi terasa lebih lembut dan netral, dengan aroma asap arang yang khas.
Beberapa penikmat kopi mengatakan, arang yang direndam dalam kopi berfungsi seperti penyaring alami, menyerap sebagian zat asam dari kopi sehingga rasa pahitnya berkurang. Itulah sebabnya Kopi Joss tetap nikmat diminum bahkan tanpa gula.
Menariknya, setelah diminum, ada sensasi hangat yang bertahan lama di tenggorokan—berbeda dari kopi biasa. Bagi sebagian orang, efek ini membuat tubuh terasa lebih segar dan rileks.
Banyak orang percaya bahwa Kopi Joss punya berbagai manfaat kesehatan, mulai dari menghilangkan masuk angin, menetralisir asam lambung, sampai menyerap racun dalam tubuh. Hal ini tak lepas dari keyakinan masyarakat Jawa terhadap khasiat arang aktif (activated charcoal) yang memang digunakan dalam dunia medis sebagai penyerap racun.
Namun, penting untuk diketahui bahwa arang dalam Kopi Joss bukan arang aktif, melainkan arang biasa dari pembakaran kayu keras. Meski ada sedikit efek menyerap zat tertentu, manfaat kesehatannya tidak sama dengan arang medis. Jadi, jangan jadikan Kopi Joss sebagai pengganti obat, ya.
Tetapi dari sisi pengalaman, tak bisa disangkal bahwa minuman ini memang memberikan efek relaksasi dan kenyamanan. Suhu kopi yang panas, suasana angkringan yang hangat, dan obrolan santai di bawah lampu jalan Jogja—semuanya menciptakan pengalaman yang menenangkan dan khas.
Kopi Joss bukan hanya soal rasa, tapi juga simbol dari kesederhanaan khas Jogja. Minuman ini menggambarkan bagaimana sesuatu yang sederhana bisa punya daya tarik luar biasa bila disajikan dengan niat dan keunikan.
Bayangkan: hanya kopi, gula, air panas, dan sepotong arang. Tapi dari kombinasi itu, lahirlah minuman yang jadi ikon kota dan bahkan dikenal hingga mancanegara. Banyak turis asing yang rela antre di Malioboro hanya untuk merasakan “kopi dengan bara api di dalamnya”.
Kopi Joss juga mencerminkan semangat masyarakat Yogyakarta yang kreatif, inovatif, namun tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional. Dari secangkir kopi ini, kita belajar bahwa orisinalitas dan keberanian mencoba hal baru bisa menciptakan warisan budaya yang abadi.
Kini, Kopi Joss tidak hanya bisa ditemukan di angkringan Malioboro. Banyak kafe modern di Jogja hingga kota-kota lain di Indonesia yang mulai mengadaptasi konsep ini dengan tampilan lebih kekinian.
Ada yang menyajikannya dalam gelas kaca elegan, ada pula yang memadukannya dengan espresso base atau latte art, bahkan dijadikan konten estetik di media sosial.
Namun, bagi banyak orang, sensasi Kopi Joss tetap terasa paling autentik ketika diminum di angkringan malam—dengan alas bangku kayu, di bawah sinar lampu jalan, dan ditemani suara kereta lewat di kejauhan.
Kopi Joss bukan sekadar minuman, tapi pengalaman budaya. Ia lahir dari kreativitas dan keberanian orang sederhana yang ingin memberi makna lebih pada secangkir kopi. Dari Jogja, Kopi Joss menyebar jadi legenda yang terus diceritakan dan dicoba oleh siapa pun yang mencari kehangatan dalam kesederhanaan.
Jadi, kalau kamu berkesempatan ke Yogyakarta, sempatkan mampir ke Malioboro saat malam tiba. Duduklah di bangku angkringan, pesan segelas Kopi Joss, dan rasakan sensasi cesss! yang tak hanya memanaskan kopi, tapi juga menghangatkan hatimu.
Kamu bisa menikmati sajian kopi-kopi kekinian di tempat syahdu hanya di The Gege saja lho!